::: MENONTON FILM, MENDENGAR MUSIK...*
Pada tahun 1952, penyanyi country Tex Ritter bernyanyi di tiga menit pertama film High Noon, sebuah film koboi terkenal: “Do not forsake me o my darlin’, on this our wedding day…” Lirik yang sedikit cengeng, tapi mari kita dengar beberapa baris berikutnya: “…although you're grievin', I can't be leavin', until I shoot Frank Miller…” Ada pretensi heroik, sebab ini memang film Western: ada jagoan, kuda, bandit, dan baku tembak. Namun, High Noon bukan sekadar film Western biasa. Selain tidak terlalu “brutal” (baca: gagah) untuk ukuran film Western saat itu—para koleganya bahkan mencibirnya sebagai film koboi ayam sayur—ada hal lain yang layak dicatat dari film garapan Fred Zinnemann ini. Lagu pembuka film ini, berjudul “Do Not Forsake Me: The Ballad of High Noon”, menjadi tonggak penting “perkawinan” film dan musik. Lagu yang meraih penghargaan Oscar untuk kategori Best Song ini mengilhami film-film setelahnya. Banyak film kemudian memakai strategi serupa: mengawali film dengan satu lagu utuh yang liriknya bernarasi selama opening title, sekaligus menjadikannya theme song, lagu yang menjadi ruh sepanjang film.
Sejarah panggung hiburan, khususnya film dan musik, memang wajib mencatat angka tahun 1952. Selain High Noon, pada tahun itu dirilis film Singin’ in The Rain, yang kemudian disebut-sebut sebagai salah satu film musikal terbaik sepanjang masa. Salah satu lagunya yang cukup terkenal—berjudul sama, didendangkan Gene Kelly—menjadi klasik dan melegenda. Tapi kita tidak hendak bicara genre film musikal. “Perkawinan” musik dan film di sini lebih mengacu bagaimana musik berperan mendukung narasi sebuah film, berjalan seiring—bukan musik sebagai medium utama pencerita. Kita tahu, “perkawinan” ini bukanlah yang pertama. Dia sudah muncul jauh-jauh hari sebelumnya, dalam bentuk perhelatan yang berbeda. Semenjak kemunculannya di awal abad 20, film telah akrab dengan musik. Film bisu (silent film) tak pernah sepenuhnya bisu—dia hanya zonder dialog. Iringan musik tetap ada, meski itu berarti harus memboyong satu rombongan orkestra untuk memainkannya di sebelah layar bioskop saat film bisu itu diputar massal.
Sementara itu, Indonesia tahun 1952 juga punya catatan penting tersendiri: film berwarna Indonesia pertama, Rodrigo de Villa, dirilis. Raden Mochtar, Astaman, dan Sukarsih bermain di film dengan setting kerajaan Andalusia itu, yang seluruhnya dikerjakan di Filipina oleh Persari (milik Djamaludin Malik) bekerjasama dengan LVN Studio Filipina. Tak jelas apakah film ini memasukkan musik khas Spanyol untuk mengiringinya. Yang pasti, pasca 1952 mulai muncul beberapa film Indonesia dengan iringan musik yang cantik dan padu. Kita masih ingat bagaimana di film Asrama Dara (Usmar Ismail, 1958), co-pilot Imansyah (diperankan Bambang Hermanto) berusaha memikat pramugari yang dicintainya, Maria (Baby Huwae) dengan lagu indah dan romantis—nada dan lirik yang mungkin bagi remaja sekarang terdengar “norak”. Film Asrama Dara sendiri diakhiri dengan berbagai surprise yang kocak dan adegan dansa-dansi yang ceria: semua tokoh berkumpul di satu ruangan, musik mengalun riang, dan segala masalah terselesaikan.
Namun jika hendak dibandingkan dengan fenomena popularitas theme song “Do Not Forsake Me” pada tahun 1952, maka theme song film Indonesia baru bisa menyamainya seperempat abad kemudian, melalui lagu “Badai Pasti Berlalu” untuk film berjudul sama garapan Teguh Karya tahun 1977. Lagu ciptaan Eros Djarot, dinyanyikan Chrisye, sangat populer saat itu. Sama populer dengan filmnya—dibintangi Christine Hakim, Roy Marten, dan Slamet Rahardjo—yang meraih beberapa piala Citra (salah satunya Musik Terbaik) di FFI 1978, dan piala Antemas di FFI 1979 untuk Film Terlaris. Bersama 12 lagu lain, dikemaslah album soundtrack film Badai Pasti Berlalu dalam bentuk kaset. Saking populernya lagu tersebut sampai Chrisye merasa perlu untuk merilis kembali album itu pada tahun 1999, dengan beberapa aransemen ulang.
Bicara kesuksesan film Indonesia berikut album soundtrack-nya, jelas tidak bisa tidak menyebut film Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002). Film yang sering disebut-sebut menandai kebangkitan kembali film Indonesia ini dikabarkan meraup lebih dari 2 juta penonton di bioskop yang selalu penuh sesak. Album soundtrack-nya pun tak kalah laris: pada hari pertama rilis, konon 12.000 keping langsung ludes dalam 6 jam! Singel theme song-nya, juga berjudul “Ada Apa dengan Cinta?”, menjadi top request di radio selama berminggu-minggu, dan menyabet banyak award di berbagai ajang penghargaan musik Indonesia.
Di film itu, penata musik Anto Hoed dan Melly Goeslaw berhasil memadukan musik secara tepat ke dalam emosi tiap adegan. Perhatikan contoh ini: adegan ketika Cinta (Dian Sastrowardoyo) di tempat tidurnya, membaca dengan penuh seksama buku Aku milik Rangga (Nicholas Saputra). Rasa penasaran Cinta terhadap karakter unik Rangga yang baru dikenalnya (untuk kemudian jatuh cinta padanya), terwakili oleh musik latar dan lagu yang mengalun syahdu. Juga lirik yang pas: “pertama kali aku tergugah, dalam setiap kata yang kau terucap”. Atau ini: ketika Cinta mematut diri di depan cermin, memilih-milih baju yang paling pantas untuk kencan pertamanya dengan Rangga, setelah berbohong pada teman-temannya. Beat lagu yang menghentak-hentak sangat tepat menggambarkan perasaan Cinta saat itu, “aku hanya ingin mencintai, aku hanya ingin dicintai, walaupun banyak yang menentangku…”
Jika “Do Not Forsake Me” dinyanyikan Tex Ritter di awal film High Noon, bercerita tentang premis utama film itu, maka sepenggal lagu “Ada Apa dengan Cinta?” baru dinyanyikan duet Melly Goeslaw dan Erik menjelang akhir film. Adegan awal film—suasana hiruk pikuk anak-anak SMU di sebuah pagi yang ceria menjelang lonceng masuk berbunyi—lebih memilih lagu “Ku Bahagia” yang bernada riang dan berlirik optimis. Dinyanyikan utuh selama opening title, lagu ini seolah hendak mengingatkan sejak awal ke penonton: ini film remaja, tentang sebuah masa yang meskipun cengeng di sana-sini, tetap saja indah, romantis, dan tak terlupakan.
Strategi yang kurang lebih sama dipakai di film Cas Cis Cus (Sonata di Tengah Kota), karya Putu Wijaya tahun 1989. Dari lirik lagu pembukanya—dinyanyikan secara kocak oleh Deddy Mizwar sebagai waria—kita bisa segera tahu ini film komedi tentang seorang nenek yang cerewet. Di awal film Lagu untuk Seruni (Labbes Widar, 1991), Nia Zulkarnaen bernyanyi, “aku di sini, engkau di sana, menahan rindu dalam dada”, dan memang betul, cerita filmnya tak jauh-jauh dari tema perpisahan. Dan ketika Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho, 1997) dibuka dengan adegan seorang pemusik jalanan memainkan saksofon dengan nada menyayat di tengah keremangan malam, penonton patut curiga: mereka hendak disuguhi sebuah narasi film yang mengiris hati.
Tapi Garin Nugroho tampaknya memang seorang melankolis. Di karya sebelumnya, Bulan Tertusuk Ilalang (1995), Garin memasukkan lagu “Blue Moon“ (yang benar-benar mellow dari segi nada, lirik, bahkan judul!) ke beberapa adegan, termasuk adegan masokisnya yang terkenal—Bulan dan Ilalang menusuki jari mereka dengan jarum sampai berdarah-darah. Garin agaknya cukup piawai memanfaatkan musik secara proporsional. Di kebanyakan filmnya, dia tak cerewet dengan ilustrasi musik. Meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma di buku Membaca Film Garin (Pustaka Pelajar, 2002), “justru musik yang hanya secuil-cuil itu, dengan kesecuilannya, menandai kematangan sebagai bagian dari komposisi sebuah film” . Dengan kata lain, musik yang secukupnya, tidak melebihi narasi visual sebagai pencerita utama.
Dalam hal “sebagai bagian” dan bukannya “melebihi”, kita lantas ingat Igor Stravinsky (1882-1971). Bagi komposer legendaris Rusia ini, hubungan ilustrasi musik dengan narasi utama sebuah film haruslah seperti “permainan piano seseorang di kamarku dengan buku yang sedang kubaca di situ” . Artinya, narasi film dan ilustrasi musik harus saling mendukung, bukan malah saling mengganggu. Bagi Stravinsky, denting piano di ruangan itu memberi suasana nyaman—bukan malah menyeruak ke depan hidung si tuan rumah, menyingkirkan buku yang sedang dibacanya. Pendek kata, dua hal itu—narasi film dan ilustrasi musik—harus bergerak mencipta satu harmoni, bukan berkompetisi.
Mengenai hal ini, Anto Hoed dan Melly Goeslaw bisa dibilang berhasil dalam film Ada Apa dengan Cinta?, tapi tidak di Eiffel… I’m in Love (Nasri Cheppy, 2003). Film remaja yang disesaki penonton ABG ini juga memakai soundtrack karya Anto Hoed-Melly Goeslaw. Namun berbeda dengan Ada Apa dengan Cinta?, di film ini musik dan lagu mereka terasa sebagai tempelan yang tidak padu—di beberapa adegan malah terasa mengganggu dan tidak perlu. Vokal Melly Goeslaw dan visual Nasri Cheppy terasa berdiri di wilayah yang berbeda, dan di saat yang bersamaan, keduanya saling berebut perhatian penonton. Di salah satu adegan, duet vokal Melly Goeslaw dengan orang Prancis, Yan Koolkinky, demi mengejar kesesuaian dengan setting di Paris, malah terasa menggelikan.
Sementara film-film Indonesia zaman sekarang—sebagian kalangan menyebutnya: new Indonesian cinema—berlomba-lomba mencipta lagu baru untuk soundtrack-nya, film Arisan! (Nia Dinata, 2003) cuek saja melaju tanpa harus ikut-ikutan latah [*]. Jika Andai Ia Tahu (Indra Yudhistira, 2002) menggamit penyanyi Marcell, Rumah Ketujuh (Rudi Soedjarwo, 2003) ber-swing ria dengan Indra Lesmana, Tusuk Jelangkung (Dhimas Jayadiningrat, 2003) memakai penyanyi Astrid yang mirip Björk, dan Biola Tak Berdawai (Sekar Ayu Asmara, 2003) dengan komposer Addie MS dan Seto Harjojudanto, maka Arisan! santai saja mencomot lagu lama untuk beberapa adegan filmnya.
Sutradara film Arisan!, Nia Dinata, dan penata musik film Andi Rianto (yang juga menggarap film musikal karya sutradara Indra Yudhistira Biarkan Bintang Menari, 2003), seolah paham betul kata-kata Stravinsky. Jangan pernah lewatkan menit-menit pertama Arisan! yang sangat menarik: sebuah ide opening title yang cukup cerdas dan artistik, ditingkahi musik latar yang dinamis. Dan di satu adegan lain, lagu “Prahara Cinta” (pernah dipopulerkan Lydia Noorsaid di dekade ’80-an) terasa klop betul dengan suasana arisan ibu-ibu muda berumur 30-an, ibu-ibu centil yang ketawa-ketiwi mengenang masa SMA mereka: “…inikah oh namanya, insan sedang jatuh cinta, mengapa…“
Film dan musik, pada akhirnya, adalah memang sepasang kekasih yang saling cinta. Bagaikan denting piano dan buku di kamar Stravinsky, mereka berbagi dan saling mengisi. Dua sejoli yang tak rela berpisah. Persis seperti kata Tex Ritter yang bernyanyi, “Do not forsake me, o my darlin’… what will I do if you leave me?”
* * *
Bandung, 15 Desember 2003
>> Budi B. Badu
penikmat film dan musik, tinggal di Timbuktu
* Tulisan ini pernah dimuat di buletin Patontontonton Film edisi Desember 2003.
Post Scriptum:
[*] Perihal hubungan film dan soundtrack, perlu ada catatan khusus untuk film Arisan! (Nia Dinata, 2003). Tulisan ini dibuat pada Desember 2003, ketika Arisan! sudah beberapa minggu diputar di bioskop-bioskop kota besar di Indonesia. Berbeda dengan film-film Indonesia lainnya pada waktu itu, tidak ada satupun promosi film Arisan! dalam bentuk videoklip lagu soundtrack film tersebut di televisi. Juga tidak ada gelagat, sepengamatan saya waktu itu, yang menunjukkan pihak Arisan! hendak membuatnya. Saya anggap ini sebagai sebentuk idealisme mereka, dan saya mengacungkan jempol atas “langkah berani” ini. Film ini memang sudah cukup menjaring banyak penonton by word of mouth, alias dengan publikasi dari mulut ke mulut. Tapi pada Januari 2004, tampaknya saya harus menarik kembali jempol saya. Televisi mulai menayangkan videoklip lagu “Cinta Terlarang”, dinyanyikan Ren Tobing, sebagai soundtrack resmi film Arisan!. Videoklip yang disutradarai Joko Anwar (yang juga penulis skenario film Arisan!) ini memang cukup unik dalam hal tema, tapi shot-shot yang diambil dari adegan filmnya justru kurang representatif, dan malah berpotensi “menyesatkan”. Pemirsa yang hanya melihat videoklip itu dan belum menonton filmnya bisa jadi mengira Arisan! tak lebih dari sekadar film “dewasa” yang hanya sarat dengan adegan “menjurus”. Padahal, menurut saya, kekuatan Arisan! justru terletak pada skenarionya yang kuat dan cerdas atas sebuah tema yang memang tidak lazim dalam tradisi film Indonesia. Apa boleh buat, promosi adalah promosi, dan menjual rasa penasaran adalah taktik standar dalam menarik konsumen.
budibadabadu © 2003