<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8776074</id><updated>2011-04-21T17:08:50.069-07:00</updated><title type='text'>budibadabadu-tlsn</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://budibadabadu-tlsn.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8776074/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budibadabadu-tlsn.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>tulisan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06367359022701844771</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8776074.post-109823360037172549</id><published>2004-10-19T17:53:00.000-07:00</published><updated>2004-11-05T10:46:17.240-08:00</updated><title type='text'>::: SUPERMAN, THE ORDINARY MAN</title><content type='html'>&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. Hampir sekujur tubuhnya mati rasa. Para penggemar Superman yakin Reeve akan segera pulih. &lt;em&gt;“He’s Superman, isn’t he?”&lt;/em&gt; Tapi kenyataan berkata lain. Delapan tahun berlalu, dan Reeve masih belum beranjak dari kursi rodanya. Di luar layar, Reeve hanyalah manusia biasa, bukan manusia super.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Kita kenal tokoh komik populer ini: datang dari planet Krypton, berjubah merah, berkostum ketat warna biru, dengan lambang “S” warna merah kuning di dadanya. Dia tampan dan atletis. Dan kemampuannya bikin kita takjub: dia terbang melawan gravitasi, badan kebal peluru, penglihatan tembus-pandang, telinga super-tajam, gerakan super-cepat dan segudang kemampuan super lainnya. Dengan kekuatannya itu, Superman mengalahkan musuh-musuhnya, menyelamatkan dunia dari ancaman para penjahat, membantu memadamkan kebakaran, membendung tanggul kota yang hancur, menegakkan Menara Miring Pisa, atau sekadar menyelamatkan kucing tetangga. Pendek kata, Superman adalah jagoan super yang baik hati. Dan sehari-harinya, Superman “menyamar” sebagai Clark Kent, wartawan kikuk berkacamata, yang menaruh hati pada Lois Lane, rekan kerjanya di suratkabar &lt;em&gt;Daily Planet&lt;/em&gt; di kota Metropolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh superhero ini sekitar tahun 1930-an. Muncul pertama kali di&lt;em&gt; Action Comics #1&lt;/em&gt; yang terbit Juni 1938, Superman langsung merebut hati para penggemar. Sebelumnya, pembaca komik hanya disuguhi jagoan-jagoan semacam Tarzan dan Dick Tracy, yang semuanya memiliki banyak keterbatasan. Sementara Superman benar-benar memfasilitasi fantasi tergila manusia tentang seorang superhero ideal: seorang jagoan yang super-segalanya, nyaris tanpa kelemahan. Bahkan, nama Clark Kent diambil dari nama aktor ganteng kenamaan saat itu, Clark Gable, yang kemudian melegenda lewat film klasik &lt;em&gt;Gone With The Wind&lt;/em&gt; (1939). Sukses komik Superman dilanjutkan dengan membuatnya “bergerak”. Film kartunnya muncul pada tahun 1941, sepanjang 17 episode garapan Fleischer Studios. Pada tahun 1947 film serialnya diproduksi, dengan aktor Kirk Alyn berperan sebagai Superman/Clark Kent, dan diteruskan oleh George Reeves di tahun 1950-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan film &lt;em&gt;Star Wars&lt;/em&gt; (Geoge Lucas, 1977) dan &lt;em&gt;Close Encounters of the Third Kind&lt;/em&gt; (Steven Spielberg, 1977) seolah membuka jalan untuk film-film fantasi layar lebar dengan efek visual memukau. Begitu juga dengan film &lt;em&gt;Superman: The Movie&lt;/em&gt;, garapan sutradara Richard Donner yang dirilis pada tahun 1978, dengan Christopher Reeve sebagai pemeran utamanya. Efek visual "manusia terbang" di film ini sudah cukup halus, seolah-olah hendak membuktikan &lt;em&gt;tagline&lt;/em&gt;-nya yang terkenal: "You'll Believe a Man Can Fly!". Film yang ceritanya ditulis oleh Mario Puzo (penulis The Godfather) ini meraup sukses besar, sehingga dibuat sekuelnya. Semuanya dibintangi oleh Christopher Reeve: &lt;em&gt;Superman II&lt;/em&gt; (Richard Lester, 1980), &lt;em&gt;Superman III&lt;/em&gt; (Richard Lester, 1983), dan &lt;em&gt;Superman IV: The Quest For Peace&lt;/em&gt; (Sidney J. Furie, 1987). Setelah itu, ikon Superman seolah melekat pada diri Christopher Reeve, seperti halnya Boris Karloff adalah “standar klasik” untuk monster ciptaan Frankenstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang diangkat dari komik superhero sudah dipastikan memiliki calon penontonnya sendiri, yaitu para penggemar fanatik komiknya. Mereka datang untuk menonton jagoannya “bergerak”. Sisanya adalah penonton biasa yang mungkin penasaran, yang pergi menonton karena &lt;em&gt;comic-book&lt;/em&gt; movie biasanya menawarkan adegan visual dengan &lt;em&gt;special-effect&lt;/em&gt; yang menarik. Mereka membeli tiket bioskop untuk sebuah tontonan penuh aksi, tentang serunya pertarungan sang jagoan melawan penjahat. Plus sedikit bumbu-bumbu percintaan, juga komedi—karena jagoan yang baik biasanya digambarkan memiliki selera humor yang cukup bagus. Dan jangan lupa: pameran kecanggihan teknologi &lt;em&gt;setting&lt;/em&gt; dan kostum yang fantastis. Ditemani renyahnya &lt;em&gt;popcorn&lt;/em&gt; dan sejuknya &lt;em&gt;coke&lt;/em&gt;, penonton rela menonton sebuah bangunan cerita dengan premis sederhana: &lt;em&gt;good vs. evil&lt;/em&gt;. Bahkan mereka pun tak keberatan mengakhiri “petualangannya” dengan ending film yang sebetulnya sangat gampang ditebak: jagoan mereka tak mungkin terkalahkan, karena dalam logika dan realitas standar komik, kebenaran akan selalu mengalahkan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film-film Superman, hal sama juga berlaku. Dalam &lt;em&gt;Superman: The Movie&lt;/em&gt;, sejak awal penonton tahu bahwa Man of Steel itu pasti akan mengalahkan Lex Luthor, sehebat apapun usaha ilmuwan sinting yang sering menyebut dirinya sendiri sebagai “penjahat jenius Bumi paling hebat abad ini”. Penonton juga tahu, di film &lt;em&gt;Superman II&lt;/em&gt;, meskipun Jenderal Zod dan dua temannya mempunyai kekuatan setara dengan Superman (karena sama-sama dari planet Krypton), tetap saja kemenangan akhir akan menjadi milik Superman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mungkin bukan itu yang ditunggu-tunggu penonton. Bisa jadi penonton lebih ingin melihat Clark Kent yang kikuk itu berlari sambil melepas kacamatanya, merobek kancing bajunya dan memperlihatkan (ke penonton, tentunya) logo “S” yang terkenal itu, lalu terbang melesat sebagai Superman. Dan penonton bertepuk tangan. Proses transformasi ini menjadi semacam &lt;em&gt;trademark&lt;/em&gt; Superman sekaligus milik penonton. Penonton memaknai proses itu, sekaligus ikut memilikinya, dengan mengidentifikasi dirinya sebagai apa yang (ingin) mereka lihat. Jauh di lubuk hatinya, &lt;em&gt;everyone wants to be Superman&lt;/em&gt;. Berikutnya, tentu saja adalah sajian aksi heroik yang fantastis, yang memuaskan hasrat terpendam setiap penonton untuk “menjadi lebih dari sekadar dirinya yang sekarang”. Mengenai hasrat mendasar ini, kita sepakat dengan komentar Stan Lee (kreator superhero Hulk, Spider-Man dan Daredevil) tentang popularitas Superman, &lt;em&gt;“Most every guy wishes he could be more than he is. Who wouldn't love to fly? Who wouldn't love to be bulletproof? And X-ray eyes!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film adalah bentuk komunikasi dengan penonton, dan pencerita yang baik tahu betul cara memperlakukan &lt;em&gt;audience&lt;/em&gt;-nya. Penonton dilibatkan, tidak dijauhkan, apalagi jika telah ada sesuatu yang terlanjur di awang-awang. Untuk itu diperlukan strategi berupa pendekatan emosional. Dalam terminologi Superman, ada sosok Clark Kent. Di satu sisi Superman adalah manusia super dengan kekuatan super-segalanya, nyaris tanpa cacat dan kelemahan (kecuali batu Kryptonite hijau, tentunya); katakanlah ini adalah sisi “sesuatu yang terlanjur di awang-awang”. Namun di sisi lain, dia adalah seorang Clark Kent, yang dengan segala kecanggungan dan kekikukannya, adalah seorang manusia biasa. Sosok Clark Kent inilah yang berperan “membumikan” karakter Superman. Di sini penonton didekatkan secara emosi, karena Clark Kent adalah “seperti kita juga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi emosional ini—yang cukup manusiawi—menempati porsi cukup banyak di film &lt;em&gt;Superman: The Movie&lt;/em&gt;. Clark Kent remaja, menumpahkan kekesalannya—karena ditinggal teman-temannya pulang naik mobil—dengan menendang keras-keras bola rugby ke arah langit (dan tentu saja bola itu terlontar sangat jauh). Tak cukup hanya itu, Clark pun menempuh perjalanan pulang dengan berlari secepat kilat, mendahului mobil temannya, bahkan mengalahkan kereta api yang melaju kencang. Di akhir cerita, sisi emosional ini bahkan mencapai taraf yang berlebihan. Di sebuah kerusuhan kota akibat gempa yang ditimbulkan rudal Lex Luthor, mobil Lois Lane terperosok ke dalam rekahan gempa, dan Superman terlambat menyelamatkannya. Lois meninggal terkubur pasir. Superman sedih dan marah, lalu terbang dengan emosi yang meluap-luap ke luar angkasa, mengitari bumi berulangkali dengan kecepatan tinggi... dan memutar balik waktu. Superman memutar mundur waktu sampai pada keadaan sebelum Lois terjebak gempa, sehingga sempat untuk diselamatkan dari kematian. Dalam hal ini, masalah emosi dan subjektivitas Superman dikedepankan, tak peduli apakah itu melanggar hukum alam dan nilai-nilai moralitas. Setidaknya, nilai-nilai moralitas yang selalu diajarkan oleh Jor-El (ayah Superman di Planet Krypton): &lt;em&gt;“My son, you are not allowed to interfere human history...”&lt;/em&gt; Superman melanggarnya, menentukan nilai-nilai moralitasnya sendiri dengan mengedepankan perasaan. Mungkin inilah fenomena yang menurut Michel Foucault, pemikir asal Prancis, sedang terjadi di dalam masyarakat Barat kontemporer, “ranah utama moralitas, bagian dari diri kita yang paling relevan bagi moralitas, adalah perasaan-perasaan kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan emosi ke penonton, juga dilakukan dengan menempatkan posisi Superman sebagai bagian integral dari masyarakat. Di film &lt;em&gt;Superman: The Movie&lt;/em&gt;, setelah aksi &lt;em&gt;go public&lt;/em&gt;-nya yang pertama, Superman diwawancarai oleh Lois Lane. &lt;em&gt;“Who are you?”&lt;/em&gt; tanya Lois Lane. Superman menjawab, “&lt;em&gt;A friend&lt;/em&gt;”. Rupanya Superman ingin menunjukkan dia adalah “teman” bagi siapa saja, sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat luas. Maka aksi heroik Superman pun melibas batas-batas rasial maupun geografis. Dia bisa hadir di belahan dunia manapun: menghentikan aksi teroris di Menara Eiffel Paris, menolong anak kecil di Air Terjun Niagara, atau menyelamatkan seorang pekerja kulit hitam yang jatuh dari ketinggian sebuah proyek bangunan. Superman adalah milik universal, dan karena itu Superman begitu populer. Lambang “S”-nya yang legendaris itu, muncul sebagai stiker-stiker di kaca mobil, pintu-pintu kamar, atau di baju-baju kaos di seluruh dunia. Pada tahun 1960-an, muncul film Superman versi India. Di Indonesia, pada tahun 1974 muncul film &lt;em&gt;Rama Superman Indonesia&lt;/em&gt;, karya sutradara Frans Totok Ars. Epigon lainnya juga muncul di dunia komik Indonesia lewat tokoh “Godam”. Superhero lokal karangan komikus Wid N.S. yang populer di tahun 1970-an ini mempunyai kekuatan mirip Superman, dengan lambang “G” di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu diingat, seuniversal apapun Superman, sejatinya dia tetap milik Amerika. Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh ini ketika Amerika Serikat sedang dilanda masa Depresi, dan publik membutuhkan figur panutan. Superman, dengan kostum merah birunya (mengingatkan kita pada bendera &lt;em&gt;star and stripes&lt;/em&gt; kebanggaan warga AS) langsung tampil sebagai “pahlawan”. Publik Amerika seolah menemukan harapan pada sosok Superman. Semasa Perang Dunia II, tentara Amerika membaca komik Superman untuk membakar semangat mereka. Dalam komik, Man of Steel itu digambarkan bahu membahu dengan tentara Amerika melawan musuh-musuh perangnya. Bahkan diceritakan, Superman terbang ke Berlin menangkap Hitler, lalu ke Moskow meringkus Stalin! Di film &lt;em&gt;Superman: The Movie&lt;/em&gt;, yang konon pemutaran perdananya di AS dihadiri Presiden Jimmy Carter, jelas-jelas Superman mengungkapkan alasan kemunculannya dengan kata-kata monumental, &lt;em&gt;“I’m here to fight for truth, justice and the American way”&lt;/em&gt;. Superman adalah pahlawan, ikon kultural, sekaligus cerminan “kesombongan” Amerika itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka di beberapa filmnya, sering kita jumpai Superman terbang mengibarkan bendera Star and Stripes, mengembalikannya ke Gedung Putih, atau menancapkannya di permukaan Bulan. Atau Superman (baca: Amerika) menyelamatkan Moskow (baca: Uni Sovyet) dari ancaman bom atom Nuclear Man. Atau Superman berpidato perihal perdamaian dunia, dengan mengutip kata-kata Dwight D. Eisenhower, jenderal kebanggaan AS. Atau ketika Bumi hendak dikuasai Jenderal Zod dari planet Krypton, Presiden AS berbicara atas nama umat manusia seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bisa kita pahami—entah dengan rasa simpati atau geli—pernyataan Presiden George W. Bush sehubungan dengan tragedi Selasa Hitam 11 September 2001: &lt;em&gt;“Freedom is under attack”&lt;/em&gt;. Yeah, "&lt;em&gt;freedom"&lt;/em&gt;, saudara-saudara! Bukan (sekadar) Amerika. Di dunia nyata, Presiden AS itu berbicara atas nama “kebebasan” dan umat manusia—mirip kisah-kisah di komik dan film. Bedanya, di dunia nyata tak ada Superman yang menghentikan teroris menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Di dunia nyata, gedung World Trade Center tetap luluh lantak. Di dunia nyata, yang ada hanyalah Christopher Reeve, yang duduk terpaku di kursi roda merenungi nasibnya—mungkin sambil sesekali mengenang keperkasaan Superman. Tapi pendapat Reeve, yang meredefinisi arti kata “&lt;em&gt;hero&lt;/em&gt;”, benar-benar layak kita dengarkan: “… &lt;em&gt;a hero&lt;/em&gt;, adalah manusia biasa, yang menemukan kekuatan untuk berjuang keras dan tetap bertahan, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun.” Musibah memang tak jarang membuat manusia lebih bijaksana. Kita, manusia biasa, tak harus jadi manusia super untuk bisa menjadi pahlawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&gt;&gt; Budi B. Badu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;penikmat film, tinggal di Bandung&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;budibadabadu © 2003&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;*Tulisan ini dimuat di majalah &lt;em&gt;Cinemags&lt;/em&gt; edisi April 2002 dalam kondisi "dicederai". Entah atas pertimbangan editorial macam apa, beberapa paragraf saling dipertukarkan tempatnya (sehingga tentu saja merusak alur cerita) dan sejumlah tanda baca penting dihilangkan. Ini adalah versi asli dan lengkap dari Penulis&lt;/span&gt;. &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;td valign="top" align="middle" width="20%"&gt;&lt;img alt="Pak Superman Lagi Bertugas" src="http://ak.imgfarm.com/images/ap/thumbnails//OBIT_REEVE.sff_NY118_20041011031820.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8776074-109823360037172549?l=budibadabadu-tlsn.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8776074/posts/default/109823360037172549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8776074/posts/default/109823360037172549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budibadabadu-tlsn.blogspot.com/2004/10/superman-ordinary-man.html' title='::: SUPERMAN, THE ORDINARY MAN'/><author><name>tulisan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06367359022701844771</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8776074.post-109967606988719255</id><published>2003-12-05T09:18:00.000-08:00</published><updated>2004-11-05T11:31:39.556-08:00</updated><title type='text'>::: MENONTON FILM, MENDENGAR MUSIK...*</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pada tahun 1952, penyanyi country &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.allmusic.com/cg/amg.dll?p=amg&amp;sql=11:1srj286c055a~T1"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tex Ritter&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; bernyanyi di tiga menit pertama film &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0044706/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;High Noon&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, sebuah film koboi terkenal: &lt;em&gt;“Do not forsake me o my darlin’, on this our wedding day…”&lt;/em&gt; Lirik yang sedikit cengeng, tapi mari kita dengar beberapa baris berikutnya: &lt;em&gt;“…although you're grievin', I can't be leavin', until I shoot Frank Miller…” &lt;/em&gt;Ada pretensi heroik, sebab ini memang film Western: ada jagoan, kuda, bandit, dan baku tembak. Namun, &lt;em&gt;High Noon&lt;/em&gt; bukan sekadar film Western biasa. Selain tidak terlalu “brutal” (baca: gagah) untuk ukuran film Western saat itu—para koleganya bahkan mencibirnya sebagai film koboi ayam sayur—ada hal lain yang layak dicatat dari film garapan Fred Zinnemann ini. Lagu pembuka film ini, berjudul &lt;/span&gt;&lt;a href="http://academyawards.20m.com/songs/songs50.htm"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://academyawards.20m.com/songs/songs50.htm"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Do Not Forsake Me: The Ballad of High Noon&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://academyawards.20m.com/songs/songs50.htm"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, menjadi tonggak penting “perkawinan” film dan musik. Lagu yang meraih &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0044706/awards"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;penghargaan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Oscar untuk kategori Best Song ini mengilhami film-film setelahnya. Banyak film kemudian memakai strategi serupa: mengawali film dengan satu lagu utuh yang liriknya bernarasi selama &lt;em&gt;opening title&lt;/em&gt;, sekaligus menjadikannya &lt;em&gt;theme song,&lt;/em&gt; lagu yang menjadi ruh sepanjang film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah panggung hiburan, khususnya film dan musik, memang wajib mencatat angka tahun 1952. Selain &lt;em&gt;High Noon&lt;/em&gt;, pada tahun itu dirilis film &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0045152/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Singin’ in The Rain&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, yang kemudian disebut-sebut sebagai salah satu film musikal terbaik sepanjang masa. Salah satu lagunya yang cukup terkenal—&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0045152/soundtrack"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;berjudul&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; sama, didendangkan Gene Kelly—menjadi klasik dan melegenda. Tapi kita tidak hendak bicara genre film musikal. “Perkawinan” musik dan film di sini lebih mengacu bagaimana musik berperan mendukung narasi sebuah film, berjalan seiring—bukan musik sebagai medium utama pencerita. Kita tahu, “perkawinan” ini bukanlah yang pertama. Dia sudah muncul jauh-jauh hari sebelumnya, dalam bentuk perhelatan yang berbeda. Semenjak kemunculannya di awal abad 20, film telah akrab dengan musik. Film bisu (&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.silentera.com/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;silent film&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;) tak pernah sepenuhnya bisu—dia hanya &lt;em&gt;zonder&lt;/em&gt; dialog. Iringan musik tetap ada, meski itu berarti harus memboyong satu rombongan orkestra untuk memainkannya di sebelah layar bioskop saat film bisu itu diputar massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Indonesia tahun 1952 juga punya catatan penting tersendiri: film berwarna Indonesia pertama, &lt;em&gt;Rodrigo de Villa&lt;/em&gt;, dirilis. Raden Mochtar, Astaman, dan Sukarsih bermain di film dengan setting kerajaan Andalusia itu, yang seluruhnya dikerjakan di Filipina oleh Persari (milik Djamaludin Malik) bekerjasama dengan LVN Studio Filipina. Tak jelas apakah film ini memasukkan musik khas Spanyol untuk mengiringinya. Yang pasti, pasca 1952 mulai muncul beberapa film Indonesia dengan iringan musik yang cantik dan padu. Kita masih ingat bagaimana di film &lt;em&gt;Asrama Dara&lt;/em&gt; (Usmar Ismail, 1958), co-pilot Imansyah (diperankan Bambang Hermanto) berusaha memikat pramugari yang dicintainya, Maria (Baby Huwae) dengan lagu indah dan romantis—nada dan lirik yang mungkin bagi remaja sekarang terdengar “norak”. Film &lt;em&gt;Asrama Dara&lt;/em&gt; sendiri diakhiri dengan berbagai surprise yang kocak dan adegan dansa-dansi yang ceria: semua tokoh berkumpul di satu ruangan, musik mengalun riang, dan segala masalah terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika hendak dibandingkan dengan fenomena popularitas &lt;em&gt;theme song&lt;/em&gt; “Do Not Forsake Me” pada tahun 1952, maka &lt;em&gt;theme song&lt;/em&gt; film Indonesia baru bisa menyamainya seperempat abad kemudian, melalui lagu &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=1598"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=1598"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=1598"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; untuk film berjudul sama garapan Teguh Karya tahun 1977. Lagu ciptaan Eros Djarot, dinyanyikan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.chrisye-online.com/"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Chrisye&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, sangat &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/06/Musik/1191895.htm"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;populer&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; saat itu. Sama populer dengan filmnya—dibintangi Christine Hakim, Roy Marten, dan Slamet Rahardjo—yang meraih beberapa piala Citra (salah satunya Musik Terbaik) di FFI 1978, dan piala Antemas di FFI 1979 untuk Film Terlaris. Bersama 12 lagu lain, dikemaslah album &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt; film &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; dalam bentuk kaset. Saking populernya lagu tersebut sampai Chrisye merasa perlu untuk merilis kembali album itu pada tahun 1999, dengan beberapa aransemen ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara kesuksesan film Indonesia berikut album &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt;-nya, jelas tidak bisa tidak menyebut film &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0307920/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada Apa dengan Cinta?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (Rudi Soedjarwo, 2002). Film yang sering disebut-sebut menandai kebangkitan kembali film Indonesia ini dikabarkan meraup lebih dari 2 juta penonton di bioskop yang selalu penuh sesak. Album &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt;-nya pun tak kalah laris: pada hari pertama rilis, konon 12.000 keping langsung ludes dalam 6 jam! Singel &lt;em&gt;theme song&lt;/em&gt;-nya, juga berjudul “&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=3295"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada Apa dengan Cinta?&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;”, menjadi &lt;em&gt;top request&lt;/em&gt; di radio selama berminggu-minggu, dan menyabet banyak award di berbagai ajang penghargaan musik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film itu, penata musik Anto Hoed dan Melly Goeslaw berhasil memadukan musik secara tepat ke dalam emosi tiap adegan. Perhatikan contoh ini: adegan ketika Cinta (Dian Sastrowardoyo) di tempat tidurnya, membaca dengan penuh seksama buku &lt;em&gt;Aku&lt;/em&gt; milik Rangga (Nicholas Saputra). Rasa penasaran Cinta terhadap karakter unik Rangga yang baru dikenalnya (untuk kemudian jatuh cinta padanya), terwakili oleh musik latar dan lagu yang mengalun syahdu. Juga lirik yang pas: “pertama kali aku tergugah, dalam setiap kata yang kau terucap”. Atau ini: ketika Cinta mematut diri di depan cermin, memilih-milih baju yang paling pantas untuk kencan pertamanya dengan Rangga, setelah berbohong pada teman-temannya. Beat lagu yang menghentak-hentak sangat tepat menggambarkan perasaan Cinta saat itu, “aku hanya ingin mencintai, aku hanya ingin dicintai, walaupun banyak yang menentangku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika “Do Not Forsake Me” dinyanyikan Tex Ritter di awal film High Noon, bercerita tentang premis utama film itu, maka sepenggal lagu “Ada Apa dengan Cinta?” baru dinyanyikan duet Melly Goeslaw dan Erik menjelang akhir film. Adegan awal film—suasana hiruk pikuk anak-anak SMU di sebuah pagi yang ceria menjelang lonceng masuk berbunyi—lebih memilih lagu &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=3296"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Ku Bahagia”&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; yang bernada riang dan berlirik optimis. Dinyanyikan utuh selama &lt;em&gt;opening title&lt;/em&gt;, lagu ini seolah hendak mengingatkan sejak awal ke penonton: ini film remaja, tentang sebuah masa yang meskipun cengeng di sana-sini, tetap saja indah, romantis, dan tak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi yang kurang lebih sama dipakai di film &lt;em&gt;Cas Cis Cus (Sonata di Tengah Kota)&lt;/em&gt;, karya Putu Wijaya tahun 1989. Dari lirik lagu pembukanya—dinyanyikan secara kocak oleh Deddy Mizwar sebagai waria—kita bisa segera tahu ini film komedi tentang seorang nenek yang cerewet. Di awal film &lt;em&gt;Lagu untuk Seruni&lt;/em&gt; (Labbes Widar, 1991), Nia Zulkarnaen bernyanyi, “aku di sini, engkau di sana, menahan rindu dalam dada”, dan memang betul, cerita filmnya tak jauh-jauh dari tema perpisahan. Dan ketika &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0156455/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Daun di Atas Bantal&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (Garin Nugroho, 1997) dibuka dengan adegan seorang pemusik jalanan memainkan saksofon dengan nada menyayat di tengah keremangan malam, penonton patut curiga: mereka hendak disuguhi sebuah narasi film yang mengiris hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Garin Nugroho tampaknya memang seorang melankolis. Di karya sebelumnya, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0112595/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bulan Tertusuk Ilalang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (1995), Garin memasukkan lagu “Blue Moon“ (yang benar-benar mellow dari segi nada, lirik, bahkan judul!) ke beberapa adegan, termasuk adegan masokisnya yang terkenal—Bulan dan Ilalang menusuki jari mereka dengan jarum sampai berdarah-darah. Garin agaknya cukup piawai memanfaatkan musik secara proporsional. Di kebanyakan filmnya, dia tak cerewet dengan ilustrasi musik. Meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma di buku &lt;em&gt;Membaca Film&lt;/em&gt; Garin (Pustaka Pelajar, 2002), “justru musik yang hanya secuil-cuil itu, dengan kesecuilannya, menandai kematangan sebagai bagian dari komposisi sebuah film” . Dengan kata lain, musik yang secukupnya, tidak melebihi narasi visual sebagai pencerita utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal “sebagai bagian” dan bukannya “melebihi”, kita lantas ingat &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.time.com/time/time100/artists/profile/stravinsky.html"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Igor Stravinsky&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (1882-1971). Bagi komposer legendaris Rusia ini, hubungan ilustrasi musik dengan narasi utama sebuah film haruslah seperti “permainan piano seseorang di kamarku dengan buku yang sedang kubaca di situ” . Artinya, narasi film dan ilustrasi musik harus saling mendukung, bukan malah saling mengganggu. Bagi Stravinsky, denting piano di ruangan itu memberi suasana nyaman—bukan malah menyeruak ke depan hidung si tuan rumah, menyingkirkan buku yang sedang dibacanya. Pendek kata, dua hal itu—narasi film dan ilustrasi musik—harus bergerak mencipta satu harmoni, bukan berkompetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hal ini, Anto Hoed dan Melly Goeslaw bisa dibilang berhasil dalam film &lt;em&gt;Ada Apa dengan Cinta?&lt;/em&gt;, tapi tidak di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0395524/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Eiffel… I’m in Love&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (Nasri Cheppy, 2003). Film remaja yang disesaki penonton ABG ini juga memakai soundtrack karya Anto Hoed-Melly Goeslaw. Namun berbeda dengan &lt;em&gt;Ada Apa dengan Cinta?&lt;/em&gt;, di film ini musik dan lagu mereka terasa sebagai tempelan yang tidak padu—di beberapa adegan malah terasa mengganggu dan tidak perlu. Vokal Melly Goeslaw dan visual Nasri Cheppy terasa berdiri di wilayah yang berbeda, dan di saat yang bersamaan, keduanya saling berebut perhatian penonton. Di salah satu adegan, duet vokal Melly Goeslaw dengan orang Prancis, Yan Koolkinky, demi mengejar kesesuaian dengan setting di Paris, malah terasa menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara film-film Indonesia zaman sekarang—sebagian kalangan menyebutnya: &lt;em&gt;new Indonesian cinema&lt;/em&gt;—berlomba-lomba mencipta lagu baru untuk &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt;-nya, film &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0374506/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Arisan!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (Nia Dinata, 2003) cuek saja melaju tanpa harus ikut-ikutan latah &lt;span style="color:#cc6600;"&gt;[*]&lt;/span&gt;. &lt;em&gt;Jika Andai Ia Tahu&lt;/em&gt; (Indra Yudhistira, 2002) menggamit penyanyi Marcell, &lt;em&gt;Rumah Ketujuh&lt;/em&gt; (Rudi Soedjarwo, 2003) ber-swing ria dengan Indra Lesmana, &lt;em&gt;Tusuk Jelangkung&lt;/em&gt; (Dhimas Jayadiningrat, 2003) memakai penyanyi Astrid yang mirip Björk, dan &lt;em&gt;Biola Tak Berdawai&lt;/em&gt; (Sekar Ayu Asmara, 2003) dengan komposer Addie MS dan Seto Harjojudanto, maka &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; santai saja mencomot lagu lama untuk beberapa adegan filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara film &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt;, Nia Dinata, dan penata musik film Andi Rianto (yang juga menggarap film musikal karya sutradara Indra Yudhistira &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0388769/"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Biarkan Bintang Menari&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;, 2003), seolah paham betul kata-kata Stravinsky. Jangan pernah lewatkan menit-menit pertama &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; yang sangat menarik: sebuah ide opening title yang cukup cerdas dan artistik, ditingkahi musik latar yang dinamis. Dan di satu adegan lain, lagu &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=150"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=150"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Prahara Cinta&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.tembang.com/detail.asp?lid=150"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (pernah dipopulerkan Lydia Noorsaid di dekade ’80-an) terasa klop betul dengan suasana arisan ibu-ibu muda berumur 30-an, ibu-ibu centil yang ketawa-ketiwi mengenang masa SMA mereka: “…inikah oh namanya, insan sedang jatuh cinta, mengapa…“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dan musik, pada akhirnya, adalah memang sepasang kekasih yang saling cinta. Bagaikan denting piano dan buku di kamar Stravinsky, mereka berbagi dan saling mengisi. Dua sejoli yang tak rela berpisah. Persis seperti kata Tex Ritter yang bernyanyi, &lt;em&gt;“Do not forsake me, o my darlin’… what will I do if you leave me?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bandung, 15 Desember 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; &lt;strong&gt;Budi B. Badu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;penikmat film dan musik, tinggal di Timbuktu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tulisan ini pernah dimuat di buletin &lt;em&gt;Patontontonton Film&lt;/em&gt; edisi Desember 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Post Scriptum:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;[*]&lt;/span&gt; Perihal hubungan film dan &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt;, perlu ada catatan khusus untuk film &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; (Nia Dinata, 2003). Tulisan ini dibuat pada Desember 2003, ketika &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; sudah beberapa minggu diputar di bioskop-bioskop kota besar di Indonesia. Berbeda dengan film-film Indonesia lainnya pada waktu itu, tidak ada satupun promosi film &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; dalam bentuk videoklip lagu soundtrack film tersebut di televisi. Juga tidak ada gelagat, sepengamatan saya waktu itu, yang menunjukkan pihak &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; hendak membuatnya. Saya anggap ini sebagai sebentuk idealisme mereka, dan saya mengacungkan jempol atas “langkah berani” ini. Film ini memang sudah cukup menjaring banyak penonton by &lt;em&gt;&lt;strong&gt;word of mouth&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, alias dengan publikasi dari mulut ke mulut. Tapi pada Januari 2004, tampaknya saya harus menarik kembali jempol saya. Televisi mulai menayangkan videoklip lagu “Cinta Terlarang”, dinyanyikan Ren Tobing, sebagai &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt; resmi film &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt;. Videoklip yang disutradarai Joko Anwar (yang juga penulis skenario film &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt;) ini memang cukup unik dalam hal tema, tapi &lt;em&gt;shot-shot&lt;/em&gt; yang diambil dari adegan filmnya justru kurang representatif, dan malah berpotensi “menyesatkan”. Pemirsa yang hanya melihat videoklip itu dan belum menonton filmnya bisa jadi mengira &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; tak lebih dari sekadar film “dewasa” yang hanya sarat dengan adegan “menjurus”. Padahal, menurut saya, kekuatan &lt;em&gt;Arisan!&lt;/em&gt; justru terletak pada skenarionya yang kuat dan cerdas atas sebuah tema yang memang tidak lazim dalam tradisi film Indonesia. Apa boleh buat, promosi adalah promosi, dan menjual rasa penasaran adalah taktik standar dalam menarik konsumen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;budibadabadu © 2003&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8776074-109967606988719255?l=budibadabadu-tlsn.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8776074/posts/default/109967606988719255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8776074/posts/default/109967606988719255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budibadabadu-tlsn.blogspot.com/2003/12/menonton-film-mendengar-musik.html' title='::: MENONTON FILM, MENDENGAR MUSIK...*'/><author><name>tulisan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06367359022701844771</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8776074.post-109968196574409365</id><published>2000-10-17T11:06:00.000-07:00</published><updated>2004-11-05T11:28:41.450-08:00</updated><title type='text'>::: KOPI, TV, POPULARITAS...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Videoklip &lt;em&gt;Coffee and TV&lt;/em&gt; adalah cerita tentang sebuah misi mulia. Sebuah upaya penyelamatan. Perjalanan si kotak susu menjadi sangat heroik sekaligus mengharukan. Dan perjuangannya tak sia-sia. Si anak hilang berhasil ditemukan—dia sedang bermain musik, nge-band bersama teman-temannya. Si anak hilang pun bergegas pulang, meninggalkan teman-temannya, kembali ke rumah orangtuanya. Tugas si kotak susu selesai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Blur, band asal Inggris, berhasil menerjemahkan lirik lagunya ke dalam bahasa gambar videoklip dengan cara yang ‘berbeda’. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://blur.lyrics-songs.com/lyrics/4769/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lirik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; lagu Coffee and TV sendiri bercerita tentang seorang superstar yang lelah akan dunianya. Lirih, lagu bernuansa minor ini dilantunkan—setengah berharap, setengah mengejek. &lt;em&gt;“Do you feel like a chain store/ practically floored/ one of many zeros/ kicked around bored…”&lt;/em&gt; Popularitas menjadikan seorang bintang seakan-akan (harus) hidup dalam deretan etalase toko: siap dilihat-lihat, dan oleh sebab itu harus bagus—karena konsumen adalah raja. Sang bintang pun terjebak dalam rutinitas itu: rangkaian konser yang gegap gempita, jadwal tur yang melelahkan, kejaran pers, dan histeria penggemar. Ruang gerak pun menjadi terbatas. Privasi tiba-tiba menjadi satu hal langka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penggemar bisa berada di mana saja, siap mengejar-ngejar untuk sekadar tanda tangan atau foto bersama. Sesuatu yang mungkin pada awalnya menyenangkan, membanggakan, tapi lama-kelamaan merepotkan juga. Sang bintang pun merasa letih. Mungkin juga jenuh—dan karenanya ingin sekali-kali hengkang dari situ. Di bagian reffrain, dengan teriakan setengah tertahan, keinginan itu diungkapkan: &lt;em&gt;“...so give me coffee and TV easily/ I’ve seen so much/ I’m going blind/ and braindead virtually….”&lt;/em&gt; Hal-hal sepele pun kemudian menjadi sangat berharga: ditemani secangkir kopi, menonton televisi, menjalani kehidupan seperti orang lain, layaknya seorang manusia biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Videoklip lagu ini tak lantas ber-‘frontal ria’. Dia tidak hendak menerjemahkan lirik lagu begitu saja. Dipilihnya cara penyampaian yang lebih ‘halus’. Sebuah sudut pandang yang sedikit berbeda, tanpa harus menyimpang dari tema utama dan pesan lagu yang ingin disampaikan. Tak ada sepotong pun adegan tentang gemerlapnya dunia bintang. Tak ada kilapan blitz kamera dan lampu-lampu panggung yang menyilaukan. Tak ada kepungan mikrofon wartawan dan teriakan histeris penggemar. Sebagai gantinya, dipakainya simbol-simbol, yang cukup simpel tapi dalam: &lt;strong&gt;kotak susu&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;foto anak hilang&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hampir seluruh adegan adalah petualangan seru si kotak susu. Sang bintang digambarkan sebagai "si anak hilang". Sebuah kiasan yang cukup bersahaja. Bahwa si kotak susu harus menempuh perjalanan yang cukup berat—untuk ukuran sebuah kotak susu—menggambarkan betapa misi mulia itu tidaklah mudah: "mengembalikan" sang bintang ke dunianya yang semula. Betapa tidak gampang untuk keluar dari sebuah lingkaran setan bernama "dunia showbiz" itu. Dunia yang penuh gemerlap, tampak menyenangkan, tapi sekaligus kejam. &lt;em&gt;“Take me away from this big bad world...”&lt;/em&gt;—Blur bahkan menggambarkannya sebagai “sebuah dunia besar dan buruk”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dunia bintang ternyata tak selalu seenak kelihatannya, dan popularitas tak selamanya menyenangkan. Tak jarang mereka memaksa seorang bintang harus terus memakai topeng, demi menghibur penggemar. &lt;em&gt;“Your ears are full but you’re empty/ holding out out your heart/ to people who never really/ care how you are...”&lt;/em&gt; Ada 'kekosongan' di tengah ketenaran itu, menyelinap diam-diam. Ada sesuatu yang hilang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi siapa yang mau peduli 'kehampaan' itu? Tiba-tiba kita teringat kisah tragis Kurt Cobain. Popularitas Nirvana—lengkap dengan segala konsekuensinya—ternyata, siapa sangka, sangat menyiksa dia. Salah satu judul lagunya yang terkenal, &lt;em&gt;“I hate myself and I want to die”&lt;/em&gt; seakan mengisyaratkan sesuatu. Semacam beban yang berat. Bisa jadi sesuatu yang tak terjelaskan, namun menghimpit. Surat terakhirnya lebih menegaskan lagi: &lt;em&gt;"…kejahatan terbesar yang pernah aku lakukan adalah naik ke panggung dan mempertontonkan kepalsuan…"&lt;/em&gt;. Dan matilah si dewa grunge itu—dengan pistol ia meledakkan kepalanya sendiri. Tragis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Blur bukannya tak tahu hal itu. Invasi pertama Blur ke Amerika di awal ’90-an—mencoba mengulang kesuksesan Beatles—gagal total karena demam grunge ala Nirvana sedang kuat-kuatnya melanda Amerika. Band asal Inggris lainnya, Oasis, yang sukses menginvasi Amerika beberapa tahun kemudian, juga pernah menulis tentang risiko sebuah popularitas. Lirik lagu Champagne Supernova mereka menyiratkan hal itu: &lt;em&gt;“How many special people change/ how many lives are living strange/ where were you when we were getting high?”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dunia bintang tak selamanya indah. Blur telah menjadi bintang, merasakan popularitasnya, menanggung risikonya. Dan mereka ingin sekali-kali "keluar"—sebelum beban itu meledak. Melepaskan label-label superstar mereka, meski cuma sejenak. Mereka memilih cara yang sehat: dengan “kopi dan televisi”—bukan pistol. Pilihan yang manis. Lebih manis lagi, dengan sekotak susu yang berjalan-jalan lucu sepanjang videoklip.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;* * * &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&gt;&gt; Budi B. Badu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;penikmat musik dan film, tinggal di Timbuktu&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Post Scriptum:&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di videoklip yang dibuat tahun 1999 ini, “si anak hilang” diperankan oleh gitaris Blur, Graham Coxon, yang juga menulis lirik &lt;em&gt;Coffee and TV&lt;/em&gt; dan menyanyikannya sendiri (di lagu ini vokalis Damon Albarn hanya mengiringi sebagai vokal latar). Uniknya, melalui videoklip ini Graham Coxon seolah meramalkan nasibnya sendiri. Tiga tahun setelah itu lagu itu dibuat, dia keluar dari Blur, meninggalkan teman-temannya. Persis seperti di videoklipnya, dia kembali ke keluarganya (di kehidupan nyata: istri dan anaknya). Personel Blur lainnya tetap jalan terus sebagai band dan menelurkan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.pitchforkmedia.com/record-reviews/b/blur/think-tank.shtml"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;album berikutnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;, sementara Graham Coxon menghasilkan beberapa &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.grahamcoxon.com/disc.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;album solo&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; sampai sekarang. Sutradara videoklip ini, &lt;a href="http://www.imdb.com/name/nm1134029/"&gt;Garth Jennings&lt;/a&gt; [tergabung di Hammer and Tongs], juga membuat videoklip keren lainnya: &lt;em&gt;Imitation of Life&lt;/em&gt;-nya R.E.M (2001) yang unik, dan &lt;em&gt;Silent Sigh&lt;/em&gt;-nya Badly Drawn Boy (2002) yang menyentuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;budibadabadu © 2004&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8776074-109968196574409365?l=budibadabadu-tlsn.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8776074/posts/default/109968196574409365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8776074/posts/default/109968196574409365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budibadabadu-tlsn.blogspot.com/2000/10/kopi-tv-popularitas.html' title='::: KOPI, TV, POPULARITAS...'/><author><name>tulisan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06367359022701844771</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
